MENGENANG GUSDUR : MEMBACA SEJARAH KAMPUS UTM – BEM-KM UTM 2020

MENGENANG GUSDUR : MEMBACA SEJARAH KAMPUS UTM

MENGENANG GUSDUR : MEMBACA SEJARAH KAMPUS UTM

Oleh : Julianto

(Mahasiswa UTM asal Bangkalan, Menteri Agama BEM Kabinet Bara Muda 2020)

 

 

    Nama KH. Abdurrahman Wahid atau lebih akrab disapa Gus Dur, nama beliau senantiasa hidup di tengah-tengah masyarakat—selain pernah menahkodai bangsa Indonesia dengan menjadi Presiden Republik Indonesia yang ke-4, beliau sering disebut-sebut sebagai cendekiawan kontroversial baik dalam tindakan maupun ucapan. Kepemimpinan Gusdur meninggalkan sejarah bagi masyarakat Madura khususnya dalam sektor pendidikan. Tulisan sederhana ini akan bercerita mengenai Gusdur dan kaitannya dengan kampus Universitas Trunojoyo Madura (yang selanjutnya disebut UTM).
Khalayak pada umumnya bebas mempunyai ragam jawaban atas pertanyaan “apa kaitannya Gusdur dan UTM sehingga Mahasiswa, dosen dan karyawan perlu mengetahui itu ?”. Pada prinsipnya, bahwa transisi dari Unibang (Universitas Bangkalan) yang berstatus swasta menjadi UTM yang berstatus negeri bukanlah semata-mata kebetulan belaka melainkan tidak terpisahkan dari peran seorang Gusdur.
Pada suatu kesempatan, Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi yang sekarang menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM pernah diundang mengisi sebuah acara seminar Nasional di UTM. Beliau bercerita sekilas tentang Gusdur dan UTM.
Semula, Yahya Muhaimin sebagai Menteri Pendidikan Nasional kala itu yang menganggap Jawa Timur sudah banyak berdiri kampus Negeri. Madura dianggap dekat dengan Surabaya sehingga tidak perlu lagi mendirikan kampus Negeri di Madura. Sontak dengan respon tersebut, Mahfud MD meminta kepada Gusdur agar Madura didirikan kampus Negeri. Tidak menunggu lama, permintaan mulia itu diamini oleh Gusdur dan salah satu kampus yang disepakati dijadikan kampus Negeri adalah Unibang dari beberapa pilihan kampus di pulau Madura.
Transisi Unibang menjadi negeri menemui kesulitan pada persoalan teknis yang belum dipenuhi. Agar di-negeri-kan, Unibang harus memenuhi syarat yaitu harus mempunyai 3 (tiga) Fakultas Eksakta dan Fakultas Sosial Humaniora. Seperti yang umum diketahui orang, Gusdur bukan tipikal orang yang kaku dalam urusan birokrasi dan administrasi yang terkadang hanya memperlambat situasi. Gusdur meminta menterinya agar tidak mempersulit dan satu pikiran untuk me-negeri-kan Unibang menjadi kampus yang kita kenal sebagai Universitas Trunojoyo Madura. Satu pernyataan Gusdur yang paling diingat hingga saat ini,

        “…. kalau orang Madura dituntut memenuhi syarat teknis lebih dahulu ya takkan pernah bisa, negerikan dulu baru pemerintah yang membantu kekurangan syarat-syaratnya”.

    Peresmian itu dilakukan pada hari Senin, 23 Juli 2001. Gusdur meminta Mahfud MD dan Yahya Muhaimin beserta rombongan lainnya menuju Surabaya agar membacakan SK peresmian kampus UTM. Hal yang paling berkesan dalam SK peresmian tersebut dibuat pada hari libur tepatnya hari Minggu, satu hari sebelum lengsernya dari kursi kepresidenan. Saat itu Gusdur memanggil dan meminta kepada Prof. Erman Rajaguguk untuk membuat Kepres dan menandatanganinya pada waktu itu juga.
Suatu hal yang dramatis terjadi setelah peresmian UTM yaitu pada tanggal 23 Juli 2001 Gusdur dilengserkan secara politis. Dalam situasi tersebut Mahfud MD dan Yahya Muhaimin sedang berada di Surabaya dalam rangka menghadiri acara pembacaan SK peresmian UTM. Karena kondisi tak memungkinkan mereka semua kembali ke Jakarta karena khawatir akan keadaan Gusdur. Namun, pembacaan SK peresmian tersebut tetap berlangsung secara sederhana yang dibacakan oleh Maftuh Basuni mewakili pemerintah. Hal itu dinyatakan Mahfud MD,

        “…. hari itu Presiden Gusdur lengser dan di hari itu juga UTM resmi menjadi Universitas Negeri sebagai hadiah yang berharga dari Gusdur untuk Masyarakat Madura”.

Kembali pada pertanyaan di awal tulisan ini mungkin bisa terjawab meskipun tidak sepenuhnya. Penulis sepakat bahwa seharusnya semua elemen kampus UTM perlu mengetahui latar belakang historis UTM sendiri agar tidak membuat kabur kebenaran sejarah mengingat sejarah adalah identitas dan guru kehidupan bagi peradaban umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *