Dengan pendidikan yang berkualitas Indonesia berdikari asal mahasiswa melek literasi – BEM-KM UTM 2020

Dengan pendidikan yang berkualitas Indonesia berdikari asal mahasiswa melek literasi

Dengan pendidikan yang berkualitas Indonesia berdikari asal mahasiswa melek literasi

Oleh : Muhammad Raisul Anwar dari : ukmfebrati

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya, baik sumberdaya alam maupun manusia, terutama pada sumberdaya manusia yang pada tahun 2019 jumlah penduduk  sebanyak 269 juta jiwa dan menempati urutan ke empat penduduk terbanyak di dunia (BPS.go.id). Bukan hanya itu saja, pada tahun 2030-2040 indonesia diprediksi akan mengalami masa bonus demografi. Yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar dibandingkan penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun) (Bappenas.go.id)

Hal diatas merupakan potensi yang dimiiki oleh negara indonesia pada saat ini.  Teori Adam Smith dalam bukunya yang berjudul An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya bertumpu pada adanya pertambahan penduduk. Dengan adanya pertambahan penduduk maka akan terdapat pertambahan output atau hasil.

Jika mengacu pada teori tersebut, seharusnya Indonesia menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dan tentunya bisa menjadi bangsa yang berdikari. Akan tetapi pada kenyataannya, hal tersebut belum bisa terjadi. Untuk benar-benar mencapai hal tersebut, dibutuhkan SDM yang memiliki kualitas tinggi. Karena SDA yang melimpah saja tidak cukup jika tidak dikelola dengan optimal. Dan itu membutuhkan SDM yang berkualitas.

Pendidikan merupakan salah satu solusi terbaik dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada di indonesia maupun negara lainnya. Hal tersebut terbukti pada banyak negara maju, yang memiliki sistem pendidikan yang bagus, serta jumlah penduduk dengan rata-rata lama sekolah yang tinggi. Tujuan pendidikanpun menurut UU No. 2 Tahun 1985 adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, memiliki pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, memiliki budi pekerti luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, dan bertanggungjawab terhadap bangsa.

Dengan pendidikan juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing masyarakat. Akan tetapi, masih sangat banyak permasalahan yang ada pada pendidikan kita saat ini. Sistem pendidikan kita belum inklusif dan akses pendidikan masih sangat terbatas. Indonesia berada di urutan 67 dari 125 negara di dunia dalam peringkat GTCI 2019 (tirto.id).
Dengan diangkatnya menteri pendidikan dan budaya millenial yaiu Nadiem Makarim, diharapkan dapat mengubah sistem yang ada untuk lebih baik lagi. Langkah progresifnya  Terbukti dengan digantinya sistem UN menjadi asesmen kompetensi minimum, lalu di tingkat universitas diciptakannya konsep kampus merdeka, menurut saya konsep tersebut sangat baik, dan saya rasa pembaca juga setuju akan hal tersebut jika kita membedahnya.

Saat ini kita berada pada disruption era. Dimana disruption era merupakan era yang penuh dengan ketidak pastian. Sebagai contohnya adalah kita belum terbiasa melakukan kuliah online, khsusnya di Universitas trunojoyo Madura (UTM), lalu pada saat ini begitu saja terdapat musibah pandemi. Sistem perkuliahanpun berubah menjadi online. Dan perubahan tersebut apakah kita sudah siap? Saya rasa kurang siap, terbukti dengan adanya surat edaran BEM-KM UTM no. 030/C.STbk/PRESMA/BEM/KM-UTM/III/2020. Dimana masih banyak yang mengeluh soal tugas, sinyal, sitem pembelajaran yg kurang jelas dan lainnya. Dengan adanya era disrupsi tersebut maka kita dituntut untuk selalu siap dengan segala perubahan, salah satu cara adalah dengan kita meningkatkan kualitas diri sehingga dapat berfikir solutif. Contoh lagi adalah kampus merdeka, saya rasa banyk kampus termasuk UTM, belum siap menerapkan sistem tersebut dalam waktu dekat.

Diatas merupakan permasalahan umum yang dapat kita jumpai setiap tahunnya pada pendidikan kita, permasalahan peringkat PISA yang semakin turun, anggaran yang kurang efektif, kualifikasi guru yang rendah dan lainnya. Permasalahan tersebut selalu menarik untuk dikaji, dan sangat banyak tulisan akan hal tersebut. Tulisan saya ini, lebih pada introspeksi diri kita semua terutama sebagai mahasiswa. Dengan adanya permasalahan saat ini seperti diatas. Mahasiswa diharapkan mempunyai pemikiran yang kritis, kreatif dan inovatif sehingga dapat berfikir solutif. Serta dapat berfikir secara detail atau menguasai bidangnya masing-masing.

Untuk mencapai hal seperti diatas, tentunya dibutuhkan pengetahuan yang luas terutama pada bidang yang digeluti serta juga pada pengetahuan yang umum. Salah satu cara adalah meningkatkan lterasi. Literasi merupakan kemampuan individu dalam membaca, menulis, berbicara dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu.

Mahaiswa yang vokal sudah biasa kita temukan, sangat banyak mahasiswa yang aktif diskusi apalagi bertanya. Akan tetapi tidak sedikit pula mereka yang vokal namun tidak  sesuai dengan bidangnya atau pengetahuannya, sehingga terkesan bicara tanpa makna. Dan hal tersebut sangatlah tidak baik, karena dapat membentuk konsep pemikiran yang kurang solutif. Minat baca mahasiswapun sangat sedikit jumlahnya, hal tersebut sesuai dengan data diatas, ada pada peringkat 4 paling bawah. Dan pastinya lebih sedikit pula mereka yang produktif dalam menulis.

Dalam masa pandemi seperti saat ini, yang dimana diharuskan pembelajaran melalui online. Kita dapat menigkatkan literasi kita melalui e-Book yang sangat banyak kita temui. Dalam era revolusi industri 4.0 inipula, dalam meningkatkan kualitas diri yang kemudian imbasnya pada peningkatan pendidikan di Indonesia itu sendiri. Terdapat adanya literasi baru, bukan hanya tentang membaca dan menulis akan tetapi, seperti literasi data ( kemampuan membaca data, analisis dan menggunakan informasi), literasi teknologi (memahami cara kerja teknologi), literasi manusia ( Humanities, Komunikasi dan desain), (Aoun, MIT, 2017)

Jangan memiliki pemikiran kritis yang hanya selalu menvonis pemerintah, akan tetapi minim solusi. Negeri kita dari dulu hingga sekarang sudah biasa menyelesaikan masalah dengan masalah. Perubahan harus dimulai dari kita sebabagai mahasiswa, yang pada tahun 2030 nanti diprediksi Indonesia memiliki bonus demografi. Meningkatkan budaya literasi kita sebagai mahasiswa, diharapkan dapat menjadi mahasiswa yang memiliki wawawsan luas. Sehingga selalu siap terhadap perubahan yang ada. Dan pada tahun 2030 pemuda-pemudi bangsa diharapkan banyak yang produktif. Dan juga karena esok kita akan turjun langsung dalam masyarakat yang ibaratkan kita dilepas dalam hutan dan diharapkan kita memiliki banyak cara agar tetap bisa survive.

Untuk mengubah data permasalahan pendidikan kita yang “kurang baik” diatas dalam katadata.co.id, hanya bisa dilakukan dari kita sebagai pemuda dimulai dari saat ini, sehingga menjadi ahli dalam bidangnya. Dan menjadi masyarakat yang berkualitas nantinya pasti akan menghasilkan keturunan atau murid yang berkualitas pula. Maka dengan memiliki banyak sumberdaya manusia yang berkualitas,  diharapkan kita dapat menjadi bangsa yang berdikari. Kita putuskan garis lingkar kemiskinan, ayo bersama menjadi pemuda dan pemudi yang optimis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *