Pandemi Korona Mengajarkan Sistem Pendidikan Baru – BEM-KM UTM 2020

Pandemi Korona Mengajarkan Sistem Pendidikan Baru

Pandemi Korona Mengajarkan Sistem Pendidikan Baru

Oleh : Muhamad Riza, dari : UKMFRISET

Kasus pasien yang terkena Coronaviruses Desease 19 (Covid-19) di Indonesia semakin meningkat dari hari ke hari. Terhitung semenjak tanggal diumumkan pertama pada 2 Maret lalu, sampai sekarang tren masih mengalami kenaikan. Kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sebagai solusi mencegah persebaran Covid-19 ini sudah diterapkan. Namun meskipun begitu, masih banyak masyarakat yang belum mentaati aturan yang diterapkan pemerintah. Itu sangat mengkhawatirkan karena kalau masyarakat tetap melakukan kegiatan yang melibatkan orang banyak maka angka kenaikan virus ini belum bisa ditekan sepenuhnya.

Hal utama yang menjadi perhatian besar untuk saat ini ialah dari sektor ekonomi dan kesehatan. Sektor ekonomi di regional sangat terpukul. Karyawan-karyawan di berbagai perusahaan banyak yang terkena PHK, pedagang-pedangan kaki lima omzenya turun, banyak juga perusahaan-perusahaan yang harus gulung tikar. Sektor kesehatan juga demikian, diawali tenaga kesehatan yang kesulitan mendapatkan masker dan hand sanitizer karena barangnya langka, stok APD mulai menipis, belum lagi nyawa tenaga medis juga ikut terancam. Sungguh kondisi yang sangat sulit saat ini, mengingat pandemi ini juga menjangkit ke berbagai negara di belahan bumi.

            Situasi saat ini mengubah sistem di berbagai bidang yang ada. Contohnya di bidang pekerjaan, banyak perusahaan atau instansi mulai menerapkan sistem bekerja dari rumah yang dikenal dengan istilah Work For Home (WFH).Jadi karyawan tidak perlu repot-repot lagi harus berangkat ke kantornya cukup menyalakan laptop dari rumah dan mulai bekerja.

            Tidak luput juga dari bidang pendidikan, semenjak Covid-19 mulai merebak ke berbagai wilayah, mendikbud mengeluarkan aturan agar sekolah-sekolah diliburkan dan siswa bisa belajar dari rumah. Pengajar juga diarahkan untuk membuat tugas lain pengganti tugas formal dikelas. Tatap muka antara guru dan murid dilakukan secara online melalui aplikasi daring seperti Zoom, Line, Google Meet dan sebagainya.

            Pendidikan sejatinya membentuk karakter dan nilai siswa. Pembelajaran yang dilakukan via Video Online masih dinilai kurang efektif membentuk karakter siswa. Karena pembelajaran melalui daring siswa seperti menonton tayangan video online biasa. Jadi karakter yang diajarkan, tidak menjangkau ke siswa secara maksismal.

            Pengajaran orang tua siswa di rumah dinilai tidak sebaik yang dilakukan oleh guru disekolah. Menurut beberapa survei, siswa lebih nyaman belajar di sekolah daripada di rumah. Di masa pandemi ini juga membuat siswa kurang mandiri dalam belajar. Yang biasanya kegiatan belajar dilakukan bersama teman sebayanya, sekarang siswa harus belajar didampingi oleh orang tuanya. Bisa-bisa orang tuanya yang mengerjakan tugas anaknya. Disini dapat dilihat bahwa sentuhan guru tidak dapat digantikan oleh teknologi. Secanggih apapun teknologi tidak bisa mendidik manusia secara utuh.

            Beberapa sistem pendidikan yang lain mau tidak mau juga harus diubah seperti ujian sekolah, ujian nasional bahkan penerimaan peserta didik baru (PPDB) juga harus diubah selama masa physical distacing ini. Karena dengan adanya perubahan sistem tersebut guna menekan kegiatan berkerumun.

            Meskipun belum sepenuhnya efektif menerapkan sistem daring ini, namun itu cukup untuk menyambung komunikasi antara pengajar dan murid. Didalam sistem online pastilah membutuhkan gadget memadahi dan paket data internet untuk tetap terhubung. Meski mayoritas siswa mampu untuk mengikuti sistem daring ini  mereka namun masih ada beberapa yang belum bisa mengikutu karena terkendala alat. Di daerah pelosok-pelosok misalnya, jaringan seluler disana sulit dijangkau. Anak-anak daerah pelosok kebanyakan mata pencaharian orang tua tidak mencukupi untuk membeli gadget.

            Sebagai sebuah solusinya pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk menjamin keberlangsungan pendidikan di Indonesia. Kebijakan tersebut antara lain mencairkan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Bidikmisi pada April lalu. Bantuan yang diberikan bervariasi nominalnya sesuai dengan jenjang pendidikan. Yang berhak menerima bantuan ini adalah penduduk yang benar-benar masuk kategori miskin. Jenjang SD mendapat bantuan Rp. 450.000, SMP senilai Rp. 750.000 dan pelajar SMA Rp. 1.000.000.

            Bantuan-bantuan dari pemerintah tersebut sangat membantu sekali terutama bagi siswa yang terdampak nantinya selain digunakan untuk membeli kebutuhan pokok sehari-hari, juga bisa dapat digunakan membeli paket internet. Itu sangat membantu untuk meringankan beban murid dan orang tua si murid.

            Virus Covid-19 ini menuntut agar masyarakat beralih ke sistem pembelajaran yang lebih baru. Yang semula terbiasa menggunakan sistem konvensional lalu “dipaksa” beralih ke sistem yang lebih modern yaitu pembelajaran via online.

Tentunya terdapat kelebihan dan kekurangan mengenai sistem ini. Kelebihannya adalah pembelajaran ini lebih efisien dalam perihal waktu karena tidak harus bertatap muka dan bisa dilakukan dimana saja. Namun kekurangannya adalah sekarang masyarakat Indonesia belum sepenuhnya siap menerima pembelajaran semacam ini. Masih dijumpai orang-orang yang buta akan teknologi dan hidup dibawah garis kemiskinan menyebabkan sistem pembelajaran via online ini mayoritas hanya bisa dinikmati oleh kalangan menengah keatas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *